OBORMOTINDOK.CO.ID. Banggai– Isu ketenagakerjaan kerap menjadi pemicu ketegangan sosial di wilayah yang berdekatan dengan aktivitas perusahaan. Tidak sedikit pemuda yang merasa terpinggirkan, lalu menyalurkan kekecewaan melalui aksi demonstrasi. Namun, pendekatan berbeda ditunjukkan oleh Musrifin, Kepala Dusun 4 (Kadus) Kompanga, Desa Uso, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai.
Musrifin, yang akrab disapa Bung Rano, dikenal memiliki latar belakang sebagai aktivis semasa kuliah. Ia kerap terlibat dalam aksi demonstrasi yang menyuarakan aspirasi masyarakat terhadap pemerintah daerah maupun perusahaan. Namun, setelah dipercaya menjadi bagian dari Pemerintahan Desa Uso sebagai Kepala Dusun, cara pandangnya dalam menyikapi persoalan sosial, khususnya terkait tenaga kerja, mengalami perubahan signifikan.
Alih-alih membiarkan pemuda di Dusun Kompanga larut dalam isu demonstrasi yang berpotensi merugikan banyak pihak, Rano memilih pendekatan yang lebih persuasif dan membangun. salah satunya dengan kegiatan olahraga seperti sepak takraw dan bola voli sebagai ruang ekspresi positif bagi anak-anak muda di dusunnya.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Menurut Rano, aktivitas olahraga bisa menjadi salah satu kiat menyalurkan hobi pemuda. Selain itu bisa menjadi media kegiatan bersama dalam memperkuat solidaritas dan mengubah pola pikir ke arah yang lebih produktif.
“Saya pernah melakukan aksi demo, tapi tidak semua keluhan warga bisa terjawab. Dari situ saya berpikir, harus ada cara lain untuk menenangkan dan menguatkan pemuda. kegiatan olahraga yang ada di dusun kompanga merupakan inisiatif bersama masyarakat, setiap menjelang sore hari kami bermain di lapangan, kadang datang tamu dari wilayah lain, ” ujar Rano saat ditemui seusai Sholat Jumat, Jumat, 6 Februari 2026.
Lapangan sepak takraw yang dibangun pun sangat sederhana. Memanfaatkan lahan kosong yang ada di wilayah dusun kompanga, Rano perlahan-lahan menghadirkan ruang baru bagi perubahan sosial di Dusun Kompanga. Ia menyadari bahwa mayoritas warga setempat berprofesi sebagai nelayan dan petani, sehingga pendekatan kultural dan kebersamaan menjadi kunci utama.
Meski demikian, Rano tidak menutup mata terhadap akar persoalan ketenagakerjaan. Ia tetap aktif menjalin komunikasi dengan sejumlah perusahaan yang beroperasi di Desa Uso. Harapannya, perusahaan dapat melibatkan pemuda lokal sebagai tenaga kerja, atau setidaknya memberi ruang bagi pelaku usaha kecil di Dusun Kompanga.
Pendekatan yang dilakukan Rano menunjukkan bahwa meredam konflik sosial tidak selalu harus dengan konfrontasi. Dialog, kreativitas, dan kepedulian terhadap kondisi psikologis pemuda justru dapat menjadi solusi yang lebih berkelanjutan.
Ke depan, Rano berharap perubahan pola pikir ini dapat terus tumbuh. Tidak hanya soal bekerja di perusahaan, tetapi juga membuka peluang lain yang sesuai dengan potensi lokal masyarakat Dusun Kompanga. Dengan demikian, pemuda tidak lagi melihat demonstrasi sebagai satu-satunya jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka. (Bit/sal)





